Tekan Enter untuk mencari
Pengetahuan

Lanyard sebagai Corporate Merchandise, Kapan Menjadi Bagian dari Brand Experience?

Kapan lanyard menjadi bagian dari corporate merchandise dan brand experience? Bahas penggunaannya untuk employee, client, event, dan branding perusahaan.

Jilan Wuri
20 menit baca
Lanyard sebagai Corporate Merchandise, Kapan Menjadi Bagian dari Brand Experience?

Corporate merchandise sering kali dipahami sederhana sebagai barang yang diberi logo perusahaan kemudian dibagikan kepada karyawan, klien, partner, atau peserta acara. Padahal, ketika sebuah perusahaan sudah memiliki identitas brand yang kuat, merchandise dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar barang promosi.

Sebuah merchandise dapat menjadi bagian dari pengalaman seseorang ketika berinteraksi dengan brand. Desain, warna, material, cara pemberian, konteks penggunaan, hingga bagaimana benda tersebut muncul dalam sebuah acara dapat membentuk kesan terhadap perusahaan.

Lanyard termasuk salah satu produk yang menarik dalam konteks ini. Berbeda dengan merchandise yang hanya diberikan lalu disimpan, lanyard dapat digunakan dan terlihat secara langsung ketika seseorang berada di kantor, menghadiri event, bertemu klien, mengikuti training, atau menjadi bagian dari aktivitas perusahaan.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah perusahaan membutuhkan lanyard.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah kapan lanyard dapat diposisikan sebagai bagian dari brand experience perusahaan?

Corporate Merchandise Bukan Sekadar Barang dengan Logo

Istilah corporate merchandise mencakup berbagai produk yang membawa identitas sebuah perusahaan. Bentuknya bisa sangat beragam, mulai dari notebook, tumbler, tote bag, apparel, stationery, hingga berbagai aksesori yang digunakan dalam aktivitas perusahaan.

Pada pendekatan yang sederhana, merchandise hanya dianggap sebagai media untuk menampilkan logo.

Perusahaan membeli produk, menambahkan logo, kemudian membagikannya kepada audiens.

Cara tersebut memang dapat berfungsi sebagai aktivitas branding. Namun, keberadaan logo saja belum tentu membuat sebuah merchandise menjadi pengalaman brand.

Bayangkan dua perusahaan sama-sama memberikan tumbler kepada klien.

Tumbler pertama hanya memiliki logo kecil yang ditempel pada produk generik. Tumbler kedua menggunakan warna khas perusahaan, kemasan yang konsisten, desain yang sesuai karakter brand, serta diberikan sebagai bagian dari pengalaman setelah sebuah pertemuan atau event.

Keduanya sama-sama merchandise.

Namun konteks pengalaman yang tercipta bisa berbeda.

Di sinilah konsep corporate merchandise mulai berhubungan dengan brand experience.

Merchandise bukan hanya benda yang membawa identitas visual perusahaan. Merchandise dapat menjadi salah satu titik pertemuan antara seseorang dengan brand.

Apa Hubungan Corporate Merchandise dengan Brand Experience?

Brand experience pada dasarnya berkaitan dengan bagaimana seseorang mengalami sebuah brand melalui berbagai bentuk interaksi.

Interaksi tersebut tidak selalu terjadi melalui iklan atau media digital.

Seseorang dapat merasakan karakter sebuah perusahaan ketika mengunjungi kantor, mengikuti event, menerima paket, menggunakan produk, bertemu karyawan, atau mendapatkan merchandise.

Dengan kata lain, sebuah brand memiliki banyak touchpoint.

Website merupakan touchpoint.

Kemasan merupakan touchpoint.

Ruang kantor merupakan touchpoint.

Seragam merupakan touchpoint.

Event merupakan touchpoint.

Dan merchandise juga dapat menjadi touchpoint.

Karena itu, corporate merchandise sebaiknya tidak selalu dipikirkan sebagai benda yang berdiri sendiri.

Jika perusahaan memiliki identitas visual yang konsisten, merchandise dapat menjadi bagian dari sistem pengalaman brand yang lebih luas.

Misalnya perusahaan memiliki karakter brand yang modern dan minimalis.

Karakter tersebut sebaiknya tidak hanya terlihat pada website. Jika diterapkan pada merchandise, pendekatan visual yang sama dapat muncul melalui pilihan warna, typography, bentuk grafis, kemasan, dan detail lainnya.

Dengan demikian, seseorang dapat menemukan karakter brand yang sama pada berbagai media.

Kapan Merchandise Mulai Menjadi Bagian dari Brand Experience?

Tidak semua merchandise otomatis menjadi bagian dari brand experience.

Ada beberapa kondisi yang membuat hubungan tersebut menjadi lebih kuat.

Kondisi Sekadar Merchandise Bagian dari Brand Experience
Logo Hanya ditempel Menjadi bagian dari komposisi visual
Warna Dipilih bebas Mengikuti identitas brand
Desain Mengikuti produk generik Mengikuti karakter brand
Konteks Hanya diberikan Terhubung dengan aktivitas tertentu
Penggunaan Sekadar souvenir Digunakan dalam interaksi
Konsistensi Setiap produk berbeda Memiliki bahasa visual yang sama
Pengalaman Fokus pada barang Fokus pada keseluruhan touchpoint

Perbedaannya sebenarnya tidak selalu terletak pada produknya.

Benda yang sama dapat memiliki fungsi branding yang berbeda tergantung bagaimana perusahaan menggunakannya.

Sebuah lanyard polos dengan logo perusahaan dapat menjadi merchandise sederhana.

Namun lanyard dengan warna brand, pattern khas, kemasan yang konsisten, dan digunakan sebagai bagian dari employee kit atau event perusahaan dapat memiliki peran yang lebih besar dalam pengalaman brand.

Artinya, konteks penggunaan sama pentingnya dengan desain produknya.

Lanyard Bisa Menjadi Physical Brand Touchpoint

Lanyard memiliki karakter yang cukup berbeda dari beberapa merchandise perusahaan lainnya.

Produk seperti notebook atau tumbler biasanya digunakan secara personal. Lanyard justru sering digunakan pada situasi ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain.

Lanyard dapat terlihat ketika seseorang:

  • berada di lingkungan kantor;
  • menghadiri seminar;
  • mengikuti konferensi;
  • berada di booth perusahaan;
  • mengikuti training;
  • menghadiri company gathering;
  • bertemu klien;
  • atau menjadi bagian dari sebuah event.

Karena berada di area yang terlihat ketika digunakan, lanyard memiliki peluang menjadi physical brand touchpoint.

Orang tidak hanya melihat produknya.

Mereka dapat melihat seseorang menggunakan produk tersebut dalam konteks tertentu.

Di sinilah lanyard mulai menarik jika dibicarakan dari perspektif brand experience.

Fungsinya tidak harus berubah menjadi media iklan.

Cukup dengan menjadi bagian dari lingkungan visual perusahaan, lanyard sudah dapat membantu menciptakan konsistensi pengalaman.

Lanyard untuk Employee Experience

Salah satu konteks yang paling relevan adalah pengalaman karyawan.

Perusahaan sering memberikan berbagai perlengkapan kepada karyawan baru dalam bentuk employee kit. Isinya bisa berupa notebook, kartu akses, apparel, tumbler, stationery, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Lanyard dapat menjadi salah satu bagian dari paket tersebut.

Namun pendekatannya berbeda dengan pembahasan lanyard sebagai atribut identitas karyawan.

Dalam konteks brand experience, yang menjadi perhatian bukan bagaimana lanyard mengidentifikasi seseorang, tetapi bagaimana benda tersebut menjadi bagian dari pengalaman seseorang ketika bergabung dengan perusahaan.

Misalnya seorang karyawan baru menerima paket onboarding.

Di dalamnya terdapat notebook, kartu ucapan, apparel, dan lanyard dengan bahasa visual yang sama.

Semua produk menggunakan warna dan karakter desain yang konsisten.

Pengalaman tersebut dapat terasa lebih terintegrasi dibandingkan ketika setiap barang menggunakan desain yang tidak berhubungan.

Lanyard kemudian menjadi salah satu bagian kecil dari pengalaman pertama seseorang terhadap lingkungan brand.

Lanyard dalam Onboarding

Onboarding merupakan salah satu situasi yang memungkinkan merchandise memiliki konteks yang lebih kuat.

Sebuah perusahaan dapat menggunakan merchandise untuk memperkenalkan budaya dan karakter perusahaan kepada karyawan baru.

Lanyard bukan satu-satunya elemen.

Justru kekuatannya muncul ketika lanyard menjadi bagian dari keseluruhan sistem.

Misalnya:

Welcome Kit

→ Notebook
→ Tumbler
→ Apparel
→ Lanyard
→ Welcome Card

Jika semuanya memiliki bahasa visual yang sama, masing-masing produk saling memperkuat.

Lanyard menjadi bagian dari pengalaman tersebut, bukan sekadar benda dengan logo.

Lanyard untuk Company Gathering

Konteks lain adalah kegiatan internal perusahaan.

Company gathering, anniversary, workshop internal, atau kegiatan budaya perusahaan sering memiliki tema tertentu.

Pada kondisi seperti ini, lanyard dapat dibuat mengikuti tema kegiatan tanpa harus kehilangan hubungan dengan brand utama.

Misalnya brand menggunakan warna biru dan putih.

Untuk anniversary perusahaan, lanyard dapat menggunakan warna tersebut dengan tambahan elemen visual yang berkaitan dengan tema ulang tahun.

Dengan demikian, lanyard memiliki dua lapisan identitas:

identitas perusahaan

dan

identitas kegiatan.

Pendekatan seperti ini membuat merchandise terasa lebih relevan dengan konteks penggunaannya.

Lanyard dalam Interaksi dengan Client

Brand experience juga tidak berhenti pada lingkungan internal perusahaan.

Karyawan dapat bertemu dengan client, partner, supplier, maupun profesional dari perusahaan lain.

Dalam situasi tersebut, berbagai elemen yang dikenakan atau digunakan oleh karyawan menjadi bagian dari lingkungan visual perusahaan.

Lanyard dapat menjadi salah satunya.

Misalnya sebuah perusahaan mengadakan meeting dengan beberapa klien di kantor.

Karyawan yang terlibat menggunakan atribut dengan identitas visual yang konsisten.

Tidak berarti lanyard harus dibuat mencolok.

Justru untuk perusahaan dengan positioning premium, pendekatan yang lebih subtle dapat lebih sesuai.

Warna brand dapat digunakan sebagai dasar.

Logo dapat ditempatkan dengan proporsi yang terkontrol.

Pattern dapat dibuat sederhana.

Typography dapat mengikuti brand guideline.

Hasil akhirnya tidak harus terlihat seperti iklan berjalan.

Yang ingin dicapai adalah konsistensi visual ketika brand hadir secara fisik.

Ketika Lanyard Menjadi Bagian dari Pengalaman Event

Event merupakan salah satu konteks yang paling mudah memperlihatkan hubungan antara merchandise dan brand experience.

Bayangkan sebuah konferensi perusahaan.

Sebelum peserta masuk ruangan, mereka melihat:

  • backdrop;
  • registration counter;
  • signage;
  • layar presentasi;
  • booth;
  • merchandise;
  • dan lanyard yang digunakan peserta.

Jika semua elemen tersebut memiliki bahasa visual yang sama, pengalaman peserta terasa lebih terintegrasi.

Lanyard bukan lagi benda yang berdiri sendiri.

Ia menjadi salah satu bagian dari visual environment event.

Karena itu, lanyard event dapat dirancang mengikuti tema acara tanpa menghilangkan identitas brand penyelenggara.

Misalnya:

Corporate Brand

  •  

Event Theme

  •  

Campaign Visual

dapat diterjemahkan menjadi satu sistem visual.

Pendekatan tersebut berbeda dengan sekadar mencetak logo perusahaan pada lanyard kosong.

Lanyard untuk Seminar dan Conference

Pada seminar atau conference, lanyard sering digunakan sepanjang acara.

Peserta menggunakannya ketika:

  • registrasi;
  • memasuki ruangan;
  • mengikuti sesi;
  • networking;
  • mengunjungi booth;
  • berfoto;
  • atau berinteraksi dengan peserta lainnya.

Karena digunakan selama event berlangsung, desain lanyard dapat menjadi bagian dari atmosfer acara.

Warna, pattern, dan elemen grafis dapat dibuat selaras dengan visual utama event.

Misalnya event memiliki tema futuristik.

Lanyard dapat menggunakan geometric pattern atau gradient yang sama dengan backdrop dan materi digital.

Dengan demikian, desain yang dilihat peserta di layar dapat kembali muncul pada benda fisik yang mereka gunakan.

Ini merupakan salah satu contoh sederhana bagaimana digital brand experience dan physical brand experience dapat bertemu melalui merchandise.

Lanyard untuk Exhibition dan Booth

Pada exhibition, perusahaan harus bersaing mendapatkan perhatian di lingkungan yang sangat ramai.

Booth memiliki desain.

Banner memiliki desain.

Seragam tim memiliki desain.

Brosur memiliki desain.

Dan lanyard juga dapat menjadi bagian dari keseluruhan visual tersebut.

Namun lanyard tidak harus membawa seluruh informasi yang ada pada booth.

Justru lebih baik jika lanyard menggunakan elemen visual yang paling mudah dikenali.

Misalnya:

warna utama + logo + pattern khas.

Sementara informasi yang lebih kompleks tetap ditempatkan pada media yang memang dirancang untuk menyampaikan informasi.

Dengan pembagian fungsi tersebut, setiap touchpoint tetap memiliki peran masing-masing.

Tidak Semua Lanyard Perusahaan Harus Terlihat Seperti Merchandise

Ini penting karena istilah corporate merchandise tidak berarti seluruh lanyard perusahaan harus dibuat dekoratif.

Ada situasi ketika lanyard memang lebih banyak digunakan untuk kebutuhan operasional.

Dalam kondisi tersebut, aspek fungsi tetap menjadi prioritas.

Sementara lanyard yang dibuat untuk employee kit, company gathering, conference, atau campaign dapat memiliki ruang eksplorasi visual yang lebih besar.

Artinya, satu perusahaan dapat memiliki beberapa pendekatan desain.

Misalnya:

Konteks Fokus Utama
Operasional Fungsi dan kenyamanan
Employee kit Brand experience
Company event Tema + brand
Conference Event identity + brand
Exhibition Visual recognition
Corporate gift Brand impression

Pendekatan tersebut membuat penggunaan lanyard menjadi lebih kontekstual.

Tidak semuanya harus dipaksa menjadi merchandise.

Elemen Brand Apa yang Bisa Diterjemahkan ke Lanyard?

Ketika lanyard memang dirancang sebagai bagian dari corporate merchandise, ada beberapa elemen brand yang dapat diterjemahkan ke dalam desain.

Logo

Logo merupakan elemen paling obvious.

Namun logo tidak selalu harus diulang sebesar mungkin.

Dalam sistem visual yang lebih matang, logo dapat menjadi salah satu elemen dari keseluruhan komposisi.

Warna

Warna dapat menjadi identitas yang lebih dominan daripada logo.

Jika perusahaan memiliki warna yang sangat khas, penggunaan warna tersebut secara konsisten dapat membantu menciptakan hubungan visual antarproduk.

Untuk pembahasan lebih teknis mengenai penerapan warna brand pada produksi lanyard, artikel tentang warna brand yang sangat spesifik dapat menjadi referensi yang relevan.

Typography

Jenis huruf, ukuran, dan cara penempatan tulisan dapat mengikuti karakter brand.

Typography yang konsisten dapat membuat merchandise terasa berasal dari satu sistem visual.

Pattern

Pattern dapat menjadi cara untuk membawa identitas brand tanpa harus terus-menerus menampilkan logo.

Bentuk yang berasal dari elemen brand dapat dikembangkan menjadi motif yang lebih fleksibel.

Graphic Element

Beberapa perusahaan memiliki elemen grafis khas.

Misalnya garis, bentuk geometris, ilustrasi, atau simbol tertentu.

Elemen tersebut dapat diterjemahkan ke permukaan lanyard sebagai pattern atau aksen.

Konsistensi Lebih Penting daripada Banyaknya Dekorasi

Corporate merchandise yang menjadi bagian dari brand experience tidak harus memiliki desain yang rumit.

Justru konsistensi sering kali lebih penting daripada jumlah elemen yang digunakan.

Bayangkan perusahaan memiliki lima produk merchandise:

  • lanyard;
  • notebook;
  • tumbler;
  • tote bag;
  • apparel.

Jika kelimanya menggunakan warna, typography, dan elemen grafis yang saling berhubungan, audiens akan lebih mudah melihat adanya satu identitas.

Sebaliknya, jika setiap produk dibuat dengan gaya berbeda hanya karena mengikuti tren, hubungan antarproduk menjadi lemah.

Prinsipnya sederhana:

Bukan seberapa banyak elemen brand yang dimasukkan, tetapi seberapa konsisten elemen tersebut diterapkan.

Ini juga menjadi alasan mengapa lanyard sebaiknya tidak didesain sendirian ketika perusahaan memang ingin membangun sistem corporate merchandise.

Lanyard sebagai Bagian dari Brand System

Pada tahap yang lebih matang, perusahaan dapat melihat merchandise sebagai bagian dari brand system.

Misalnya:

Brand Guideline

↓

Corporate Merchandise

↓

Lanyard

Notebook

Apparel

Tumbler

Tote Bag

Masing-masing produk tidak harus identik.

Namun terdapat beberapa elemen yang tetap menjadi penghubung.

Misalnya:

  • warna utama;
  • typography;
  • logo;
  • graphic pattern;
  • photography style;
  • tone visual.

Dengan sistem seperti ini, lanyard memiliki posisi yang lebih jelas.

Ia bukan produk yang berdiri sendiri.

Ia menjadi salah satu implementasi identitas brand dalam bentuk fisik.

Kapan Lanyard Layak Diposisikan sebagai Corporate Merchandise?

Tidak semua kebutuhan lanyard harus menggunakan pendekatan brand experience.

Lanyard lebih masuk akal diposisikan sebagai corporate merchandise ketika perusahaan memang ingin menghubungkan penggunaannya dengan pengalaman brand.

Beberapa konteks yang relevan antara lain:

  • onboarding karyawan;
  • employee kit;
  • company gathering;
  • corporate anniversary;
  • conference;
  • seminar;
  • exhibition;
  • product launching;
  • networking event;
  • campaign perusahaan;
  • merchandise untuk client atau partner.

Dalam konteks tersebut, desain lanyard dapat dibuat lebih terintegrasi dengan keseluruhan pengalaman.

Sebaliknya, jika lanyard hanya dibutuhkan untuk fungsi operasional tertentu, pendekatan yang terlalu dekoratif belum tentu diperlukan.

Dari Merchandise Menjadi Brand Experience

Pada akhirnya, perbedaan antara merchandise biasa dan merchandise yang menjadi bagian dari brand experience tidak hanya ditentukan oleh produknya.

Yang menentukan adalah hubungan antara produk, brand, pengguna, dan konteks penggunaannya.

Sebuah lanyard dapat dimulai sebagai benda sederhana.

Kemudian digunakan oleh karyawan.

Muncul dalam event.

Terlihat ketika bertemu klien.

Menjadi bagian dari employee kit.

Berada dalam foto perusahaan.

Dan akhirnya menjadi salah satu elemen yang secara konsisten muncul ketika seseorang berinteraksi dengan brand.

Pada titik tersebut, lanyard tidak lagi sekadar membawa logo.

Ia telah menjadi salah satu physical touchpoint dari brand.

Itulah mengapa ketika perusahaan memilih lanyard sebagai corporate merchandise, pertanyaannya tidak harus berhenti pada:

“Logo mau dicetak di mana?”

Pertanyaan yang lebih strategis adalah:

“Pengalaman brand seperti apa yang ingin dibawa oleh lanyard ini?”

Dari pertanyaan tersebut, keputusan mengenai warna, pattern, typography, material, kemasan, hingga konteks penggunaan dapat dibuat dengan arah yang lebih jelas.

Dan ketika semua elemen tersebut konsisten, sebuah lanyard sederhana dapat memiliki peran yang jauh lebih besar dalam keseluruhan pengalaman brand perusahaan.

Ketika Lanyard Menjadi Bagian dari Employee Experience

Corporate merchandise tidak selalu ditujukan kepada pihak eksternal. Dalam banyak perusahaan, merchandise justru menjadi bagian dari pengalaman internal karyawan.

Lanyard dapat ditempatkan dalam konteks tersebut, terutama ketika perusahaan ingin membuat berbagai perlengkapan karyawan memiliki identitas visual yang konsisten.

Misalnya sebuah perusahaan memberikan welcome kit kepada karyawan baru. Di dalamnya terdapat notebook, tumbler, apparel, kartu ucapan, dan lanyard. Jika seluruh benda menggunakan bahasa visual yang sama, pengalaman menerima paket tersebut terasa lebih terkonsep.

Lanyard dalam situasi ini bukan sekadar produk dengan logo perusahaan. Ia menjadi bagian dari momen ketika seseorang pertama kali berinteraksi secara fisik dengan identitas perusahaan.

Onboarding sebagai Brand Touchpoint

Masa onboarding merupakan salah satu periode ketika karyawan menerima banyak informasi mengenai perusahaan.

Mereka mengenal lingkungan kerja, budaya perusahaan, cara berkomunikasi, hingga berbagai atribut yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Corporate merchandise dapat ikut memperkuat pengalaman tersebut.

Misalnya perusahaan mempunyai karakter brand yang modern dan sederhana. Karakter itu dapat diterjemahkan secara konsisten pada notebook, tumbler, apparel, dan lanyard yang diberikan kepada karyawan baru.

Tidak berarti semua produk harus memiliki desain yang sama persis.

Yang dibutuhkan adalah benang merah visual.

Lanyard dapat menggunakan warna utama brand, sementara notebook menggunakan pattern yang sama. Tumbler mungkin menggunakan logo yang lebih minimalis, sedangkan welcome card menggunakan typography yang sama.

Dengan demikian, setiap benda memiliki desain sendiri tetapi tetap terasa berasal dari satu brand.

Merchandise untuk Company Gathering

Company gathering juga dapat menjadi konteks yang menarik.

Sebuah acara internal biasanya mempunyai tema, tanggal, atau konsep tertentu. Lanyard dapat mengikuti tema tersebut tanpa kehilangan hubungan dengan identitas perusahaan.

Contohnya perusahaan memiliki identitas visual utama berwarna biru. Untuk acara anniversary, warna tersebut dapat dikombinasikan dengan elemen khusus yang merepresentasikan usia perusahaan atau tema acara.

Hasilnya bukan sekadar lanyard perusahaan.

Produk tersebut menjadi memorabilia dari sebuah pengalaman tertentu.

Ini berbeda dengan lanyard yang diproduksi secara generik dan digunakan berulang kali tanpa konteks khusus.

Ketika Lanyard Hadir di Depan Client

Brand experience juga dapat terbentuk melalui interaksi antara perusahaan dengan client.

Ketika meeting berlangsung di kantor, misalnya, client tidak hanya berinteraksi dengan orang yang mereka temui.

Mereka juga melihat lingkungan fisik perusahaan.

Ruang meeting, signage, pakaian karyawan, stationery, presentasi, dan berbagai atribut lainnya secara tidak langsung membentuk kesan terhadap brand.

Lanyard dapat menjadi salah satu bagian kecil dari lingkungan tersebut.

Bukan berarti lanyard harus dibuat mencolok.

Untuk brand yang memiliki positioning premium, justru desain yang sederhana dan konsisten bisa lebih sesuai.

Logo dengan proporsi yang tepat, warna yang konsisten, serta pattern yang tidak berlebihan dapat memberikan kesan bahwa perusahaan memperhatikan detail.

Lanyard dalam Corporate Event

Event merupakan salah satu kondisi ketika fungsi merchandise dan brand experience bertemu dengan sangat jelas.

Sebuah event perusahaan biasanya memiliki banyak elemen visual.

Ada backdrop.

Ada registration desk.

Ada stage.

Ada signage.

Ada presentation screen.

Ada booth.

Ada merchandise.

Dan ada lanyard yang digunakan oleh orang-orang di dalam event.

Jika seluruh elemen tersebut menggunakan bahasa visual yang sama, peserta akan merasakan bahwa event tersebut memiliki identitas yang kuat.

Lanyard menjadi salah satu bagian dari keseluruhan pengalaman tersebut.

Tidak Harus Memasukkan Semua Informasi ke Lanyard

Kesalahan yang sering terjadi ketika mendesain merchandise event adalah mencoba memasukkan seluruh informasi ke dalam produk.

Nama event.

Tanggal.

Logo sponsor.

Logo perusahaan.

Tagline.

Website.

QR code.

Media sosial.

Semua ingin dimasukkan sekaligus.

Padahal lanyard memiliki bidang yang relatif sempit.

Karena itu, lebih baik menentukan hierarki visual.

Misalnya:

Identitas utama
Logo dan warna brand.

Identitas event
Pattern atau elemen visual khusus.

Detail pendukung
Tanggal, tagline, atau elemen kecil lainnya.

Dengan hierarki tersebut, lanyard tetap terlihat sebagai bagian dari brand, bukan seperti banner kecil yang dililitkan di leher.

Corporate Merchandise dan Brand Guideline

Semakin besar perusahaan, semakin penting menjaga konsistensi identitas.

Brand guideline biasanya menentukan berbagai elemen seperti:

  • logo;
  • warna;
  • typography;
  • penggunaan ruang;
  • bentuk grafis;
  • imagery;
  • tone visual.

Corporate merchandise idealnya tidak berjalan sendiri di luar sistem tersebut.

Lanyard pun demikian.

Jika perusahaan telah mempunyai brand guideline, desain lanyard sebaiknya mengambil referensi dari sistem yang sudah ada.

Bukan berarti desain harus menyalin tampilan website atau stationery secara mentah.

Yang diterjemahkan adalah karakter visualnya.

Misalnya brand guideline menggunakan geometric shape sebagai elemen pendukung. Bentuk tersebut dapat dikembangkan menjadi pattern pada lanyard.

Jika brand memiliki warna utama dan warna sekunder, keduanya dapat digunakan untuk membangun komposisi.

Jika typography memiliki karakter tertentu, gaya tersebut dapat menjadi referensi untuk micro typography.

Dengan cara ini, lanyard tetap menjadi produk yang berdiri sendiri tetapi masih memiliki hubungan dengan brand.

Dari Brand Guideline ke Produk Fisik

Ada perbedaan antara melihat brand di layar dan menerapkannya pada benda fisik.

Pada website, sebuah gradient dapat terlihat sangat halus.

Pada lanyard, gradient tersebut harus diterjemahkan melalui proses cetak.

Pada layar, logo dapat ditampilkan dalam ukuran besar.

Pada lanyard, ruang yang tersedia jauh lebih terbatas.

Pada media digital, sebuah detail kecil dapat terlihat dengan jelas karena resolusi layar.

Pada produk fisik, detail yang terlalu kecil dapat kehilangan keterbacaan.

Karena itu, proses menerjemahkan brand guideline menjadi lanyard bukan sekadar copy-paste desain.

Ada proses adaptasi.

Elemen yang terlalu rumit mungkin perlu disederhanakan.

Pattern yang terlalu padat mungkin perlu diberi ruang.

Typography yang terlalu kecil mungkin perlu disesuaikan.

Dan warna perlu dipertimbangkan berdasarkan hasil cetak, bukan hanya tampilan monitor.

Lanyard Tidak Harus Menjadi Pusat Perhatian

Salah satu prinsip penting dalam corporate merchandise adalah mengetahui kapan sebuah produk harus tampil menonjol dan kapan harus menjadi pendukung.

Pada event tertentu, lanyard dapat dibuat cukup ekspresif karena memang menjadi bagian dari visual event.

Namun pada penggunaan corporate sehari-hari, desain yang lebih restrained mungkin lebih sesuai.

Contohnya:

Event campaign

Logo + warna cerah + pattern khusus.

Sedangkan:

Corporate daily merchandise

Logo + warna brand + pattern sederhana.

Keduanya tetap berasal dari brand yang sama.

Perbedaannya terletak pada konteks penggunaan.

Bagaimana Menentukan Pendekatan Lanyard untuk Corporate Merchandise?

Sebelum menentukan desain, perusahaan dapat melihat beberapa pertanyaan berikut.

Pertanyaan Yang Perlu Ditentukan
Siapa penggunanya? Karyawan, client, partner, peserta event
Dalam konteks apa? Daily use, onboarding, event, campaign
Apa tujuan merchandise? Appreciation, branding, event identity
Seberapa kuat brand harus terlihat? Subtle atau prominent
Apakah ada tema khusus? Ya atau tidak
Apa elemen brand yang wajib digunakan? Logo, warna, typography
Apa elemen yang fleksibel? Pattern, layout, campaign graphic
Apakah akan dipakai bersama merchandise lain? Notebook, apparel, tumbler, tote bag
Apakah desain perlu bertahan lama? Permanent atau campaign-specific

Pertanyaan tersebut membantu perusahaan menghindari keputusan desain yang hanya berdasarkan selera.

Karena lanyard untuk employee kit belum tentu membutuhkan pendekatan yang sama dengan lanyard untuk conference.

Kapan Lanyard Tidak Perlu Dijadikan Corporate Merchandise?

Menariknya, tidak semua lanyard perusahaan harus diposisikan sebagai corporate merchandise.

Jika kebutuhan utamanya adalah fungsi operasional, perusahaan tidak harus memaksakan konsep merchandise.

Misalnya sebuah perusahaan hanya membutuhkan lanyard untuk aktivitas internal tertentu dalam jumlah besar.

Dalam kondisi seperti itu, aspek:

  • kenyamanan;
  • ketahanan;
  • kesesuaian aksesori;
  • keterbacaan;
  • dan kebutuhan penggunaan

dapat menjadi prioritas.

Branding tetap dapat diterapkan, tetapi tidak perlu menjadi konsep utama.

Sebaliknya, ketika lanyard diberikan sebagai bagian dari welcome kit, digunakan dalam event, atau menjadi bagian dari campaign perusahaan, aspek brand experience dapat diberi porsi lebih besar.

Dengan demikian, keputusan desain selalu kembali pada tujuan penggunaan.

Corporate Merchandise yang Baik Tidak Harus Rumit

Ada kecenderungan menganggap merchandise yang bagus harus memiliki desain yang kompleks.

Padahal sebuah lanyard sederhana bisa menjadi bagian dari brand experience jika diterapkan dengan konsisten.

Misalnya hanya menggunakan:

warna brand + logo + pattern sederhana.

Tidak ada gradient.

Tidak ada ilustrasi.

Tidak ada QR code.

Tidak ada typography yang berlebihan.

Tetapi ketika lanyard tersebut digunakan bersama notebook, apparel, dan kemasan dengan visual yang sama, keseluruhan sistem terlihat terintegrasi.

Di sinilah kekuatan corporate merchandise sebenarnya.

Bukan pada seberapa banyak elemen yang bisa dimasukkan.

Melainkan pada seberapa baik setiap elemen saling terhubung.

Dari Logo ke Pengalaman

Pada akhirnya, perusahaan tidak membeli lanyard hanya untuk mendapatkan sebuah benda yang dicetak dengan logo.

Ketika lanyard diposisikan sebagai corporate merchandise, produk tersebut menjadi bagian dari perjalanan brand.

Brand menciptakan identitas.

Identitas diterjemahkan menjadi visual.

Visual diterapkan pada merchandise.

Merchandise digunakan oleh manusia.

Manusia berinteraksi dengan manusia lainnya.

Dan dari interaksi tersebut terbentuk pengalaman.

Alurnya dapat digambarkan sederhana:

Brand Identity

↓

Visual Identity

↓

Corporate Merchandise

↓

Lanyard

↓

Employee / Client / Event

↓

Brand Experience

Lanyard memang hanya salah satu bagian kecil dari rangkaian tersebut.

Namun karena digunakan secara langsung dan dapat terlihat dalam interaksi tatap muka, produk ini memiliki peluang untuk menjadi physical touchpoint yang konsisten.

Itulah alasan corporate merchandise sebaiknya tidak hanya dilihat dari pertanyaan “apa barangnya?”, tetapi juga “pengalaman apa yang ingin dibangun melalui barang tersebut?”

Ketika jawabannya jelas, desain lanyard pun menjadi lebih mudah diarahkan.

FAQ

Apakah lanyard termasuk corporate merchandise?

Bisa. Lanyard dapat dikategorikan sebagai corporate merchandise ketika diproduksi dan digunakan sebagai bagian dari aktivitas branding, employee kit, event, corporate gift, atau kebutuhan lain yang berkaitan dengan pengalaman brand.

Apa perbedaan lanyard biasa dengan lanyard sebagai corporate merchandise?

Perbedaannya terutama terletak pada konteks dan tujuan penggunaannya. Lanyard biasa dapat berfokus pada kebutuhan fungsional, sedangkan corporate merchandise biasanya dirancang agar memiliki hubungan yang lebih kuat dengan identitas dan pengalaman brand.

Apakah corporate merchandise harus selalu menggunakan logo?

Tidak selalu. Logo memang merupakan salah satu elemen identitas yang umum digunakan, tetapi brand juga dapat diterjemahkan melalui warna, typography, pattern, bentuk grafis, atau elemen visual lainnya.

Apakah lanyard corporate harus memiliki desain yang ramai?

Tidak. Desain minimalis tetap dapat menjadi bagian dari corporate merchandise. Konsistensi dengan identitas brand sering kali lebih penting daripada banyaknya elemen visual.

Kapan lanyard cocok digunakan sebagai merchandise perusahaan?

Lanyard dapat relevan untuk employee kit, onboarding, company gathering, conference, seminar, exhibition, corporate event, anniversary, campaign, maupun merchandise untuk client atau partner.

Apakah desain lanyard harus sama dengan merchandise perusahaan lainnya?

Tidak harus identik. Yang lebih penting adalah adanya elemen visual yang menghubungkan produk-produk tersebut, misalnya warna, typography, logo, pattern, atau karakter grafis.

Bagaimana jika perusahaan sudah memiliki brand guideline?

Brand guideline dapat menjadi dasar ketika menerjemahkan identitas perusahaan ke lanyard. Namun desain tetap perlu diadaptasi karena karakter media fisik berbeda dengan media digital.

Apakah semua lanyard perusahaan perlu dibuat sebagai corporate merchandise?

Tidak. Jika kebutuhan utamanya adalah fungsi operasional, aspek penggunaan dan kenyamanan dapat menjadi prioritas. Pendekatan corporate merchandise lebih relevan ketika lanyard memang menjadi bagian dari employee experience, event, campaign, atau brand touchpoint.

Kategori: Pengetahuan

Butuh Produk Custom?

Konsultasikan kebutuhan lanyard dan merchandise Anda bersama tim kami. Gratis desain!

Artikel Terkait